Mentari pagi, bangunkan rima-rima di ufuk timur.
Siang menerjang bagai gelombang-gelombang halusinasi.
Dalam hatinya apakah dia berkata, aku rindu kamu?
Dalam hatinya apakah sebuah nama terukir, namaku?
Semu, tapi tak mungkin.
Gundah, tapi tak pantas.
Sejauh mata memandang, semuanya bisa mungkin.
Sejauh kaki melangkah, semua pasti pantas.
Jarum berputar dan tunjukkan tanda,
Tanpa gurau, tanpa lelah,
Aku akan terus melangkah,
Untuk mengarungi sebuah pertanda,
BAHWA,
sayangilah aku diatas semua kerinduanku wahai kasih.
DAN KARENA,
hanya waktu yg bisa membuktikannya.
AMIN
Siang menerjang bagai gelombang-gelombang halusinasi.
Dalam hatinya apakah dia berkata, aku rindu kamu?
Dalam hatinya apakah sebuah nama terukir, namaku?
Semu, tapi tak mungkin.
Gundah, tapi tak pantas.
Sejauh mata memandang, semuanya bisa mungkin.
Sejauh kaki melangkah, semua pasti pantas.
Jarum berputar dan tunjukkan tanda,
Tanpa gurau, tanpa lelah,
Aku akan terus melangkah,
Untuk mengarungi sebuah pertanda,
BAHWA,
sayangilah aku diatas semua kerinduanku wahai kasih.
DAN KARENA,
hanya waktu yg bisa membuktikannya.
AMIN
No comments:
Post a Comment